Tema : Ketidak abadian Judul : Berpapasan
Konsep : Lapuk
Ukuran : 100 x120 cm
Warna : Acrylic on canvas
Latar
belakang dari pembuatan karya ini adalah saya terinspirasi dari fenomena yang
terjadi pada pohon ketika sudah usia/tua. Dia akan mengalami peroses pelapukan
dan semua unsur-unsurnya akan menyatu kembali dengan tanah. Hal itulah memiliki
nilai pilsafat yang sangat tinggi. Dari fenomena
itulah saya mendapatkan ide
untuk menuangkannya dalam karya lukisan. Visualnya menggambarkan burung cendet dalam
bahasa Bali disebut cucuk pandan, dimana burung ini dulu banyak sekali terdapat
di Desa saya. Tetapi karena maraknya perburuan burung ini akan mengalami kepunahan.
Hal tersebut sangat memprihatinkan sehingga menginspirasi saya untuk
mengangkatnya. Dengan harapan untuk menggerakkan hati masyarakat agar dapat
melestarikan dan memunculkan kepedulian masyarakat dengan burung cendet.
Dalam karya ini saya menggambarkan dua
ekor burung yang tebang berlawanan satu ke atas dan satu ke bawah sedangkan
dipojok kiri bawah terdapat gambar batang pohon yang lapuk sebagai penyeimbang
objek. Dengan latar belakang bergeradasi warna untuk menangkap kesan dari alam.
Burung yang terbang ke atas merupakan simbol burung muda yang akan terbang
setinggi-tingginya dan memiliki bentuk yang sangat indah. Namun ketika dia tua
akan sebaliknya disimbulkan dengan burung lapuk yang terbang ke bawah. Ketika burung
itu tua dia akan terbang rendah dan kecantikan dari bulunya akan mulai
menghilang. Dalam konteks ini sama dengan konsep ajaran Agama Hindu yaitu
ketika kita menjalani hidup di dunia ini kita akan melewati fase-fase yang
dinamakan Catur Asrama yaitu Brahmacari, Grahasta, Wanaprasta, Biksuka
(sanyasin) sama seperti itu proses kehidupan yang dialami mahluk hidup didunia
ini.