Tema : Ketidak Abadian Judul : Kursi Pemerintahan
Konsep : Lapuk
Ukuran : 100 x 120 cm
Warna : Acrylic on canvas
Latar
belakang dari pembuatan karya ini adalah saya terinspirasi dari fenomena yang
terjadi pada pohon ketika sudah usia/tua. Dia akan mengalami peroses pelapukan
dan semua unsur-unsurnya akan menyatu kembali dengan tanah. Hal itu memiliki
nilai filsafat yang sangat tinggi. Dari fenomena itu saya mendapatkan ide
untuk menuangkannya dalam karya lukisan. Visualnya menggambarkan bentuk kursi
yang
tinggi dari kayu lapuk dan sepatu manusia. Disini saya terinspirasi dari
keadaan politik yang terjadi khususnya di Indonesia. Keadaannya semua orang memperebutkan
sebuah kursi walaupun bertempur dengan keluarga, teman atau sahabat sekalipun. Mereka
melakukan segala hal untuk mendapatkan simpati masyarakat. Dengan memberikan
janji-janji palsu kepada masyarakat untuk meningkatkan popularitasnya ataupun
menjelek-jelekkan lawannya sehingga
secara otomatis terlihat bahwa dialah yang terbaik. Sangat ironis sekali
sehingga saya ingin mengungkapkannya kedalam media lukisan dan berharap semua orang
mengerti bahwa kursi itu hanyalah perhiasan dan mahkota yang akan lapuk oleh
waktu. Berpesan bahwa jiwa abdi yang tulus kepada masyarakat takkan pernah
lapuk terhadap waktu.
Di
dalam karya ini terdapat tiga icon yaitu kursi, sepatu dan kayu lapuk. Kursi
melambangkan posisi/ kedudukan yang diperebutkan semua dunia politik khususnya
di tanah air saat ini. Sepatu sebagai simbol pelaku yang melakukannya yaitu
adalah milik manusia. Kayu lapuk dan kursi lapuk sebagai simbol bahwa apa yang
diperebutkan itu tidaklah abadi karena semua itu akan termakan oleh waktu.